Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, August 28, 2009

Lomba Penulisan Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia 2009

LOMBA PENULISAN ARTIKEL TENTANG KEPUSTAKAWANAN INDONESIA 2009 LPAKI 2009

I. LATAR BELAKANG

Perpustakaan Nasional RI sebagai Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perpustakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian dan pusat jejaring perpustakaan.
Keenam fungsi tersebut memiliki arti mendalam bagi pelestarian memori kolektif bangsa (nation collective memory) yang membentuk jatidiri, karakter dan budaya bangsa Indonesia.

Keberadaan UU RI No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menjadi landasan hukum bagi penetapan kebijakan, penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan di Indonesia untuk dapat menetapkan hal-hal tersebut. Perpustakaan Nasional RI berharap masyarakat dapat memberikan masukan dan saran yang membangun pasca terbitnya UU RI No. 43 tahun 2007 tersebut.

Sehubungan dengan hal diatas, Perpustakaan Nasional RI, mengadakan Lomba Penulisan Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia (LPAKI) Tahun 2009. Lomba ini sekaligus untuk memperingati Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan pada tanggal 14 September 2009.

II.TEMA :PERPUSTAKAAN NASIONAL RI PASCA UU RI NO.43 TAHUN 2007 TENTANG PERPUSTAKAAN
Pilihan Topik Tulisan:
1. Layanan Prima Perpustakaan Nasional RI yang Dibutuhkan Masyarakat;
2. Peran Perpustakaan Nasional RI dalam Pelestarian Budaya Bangsa;
3. Membangun Kemitraan Perpustakaan dalam Era Keterbukaan Informasi.  

III.PERSYARATAN LOMBA
1. Peserta lomba adalah masyarakat umum;
2. Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Kartu Mahasiswa atau identitas lain;
3. Melampirkan daftar riwayat hidup;
4. Peserta lomba dapat mengirim lebih dari satu artikel dengan judul berbeda;
5. Isi artikel harus relevan dengan tema lomba dan topik penulisan;
6. Isi artikel harus asli, bukan terjemahan;
7. Bersifat aplikatif dan inovatif;
8. Bentuk tulisan ilmiah popular, ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar;
9. Panjang artikel 7-15 halaman (10.000-15.000 karakter), ukuran kertas A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12;
10. Artikel belum pernah menang atau sedang dilombakan;

11. Karya tulis dikirim dalam format Word disertai identitas pribadi (termasuk nomor telepon yang mudah dihubungi) melalui email ke alamat:
lpaki2009@yahoo. com dan
cc. luthfiatimakarim@ ymail.com
Subject: Naskah (nama peserta) LPAKI 2009
12. Karya tulis dikirim ke Panitia selambat-lambatnya hari Jumat, 2 Oktober 2009 (tanggal kirim email);
13. Panitia tidak melayani surat-menyurat;
14. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat;
15. Naskah yang masuk menjadi milik Perpustakaan Nasional RI ;
16. Naskah pemenang akan dimuat di majalah Visi Pustaka serta dimasukkan ke dalam web resmi Perpustakaan Nasional RI www.pnri.go. id;
17. Pemenang lomba akan diumumkan di web pnri www.pnri.go. id pada awal bulan November 2009;
18. Jika di kemudian hari pemenang diketahui melanggar UU Hak Cipta maka kemenangan peserta akan digugurkan dan wajib mengembalikan hadiah kepada Panitia.

IV. KRITERIA PENILAIAN 
1. Orisinalistas ide;
2. Pemahaman terhadap tema dan topik;
3. Kekayaan informasi yang terkandung dalam karya tulis;
4. Ketepatan menganalisis atau menafsirkan permasalahan;
5. Kekuatan data, fakta dan argumentasi dengan menyebutkan sumber rujukan yang jelas;
6. Bahasa yang digunakan komunikatif dan mudah dipahami.

V. HADIAH
1. Juara 1: Rp. 5.000.000,- ( Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan;
2. Juara 2: Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan;
3. Juara 3: Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan;
4. Juara Harapan 1: Rp.2.000.000, (Dua juta rupiah) dan piagam penghargaan;
5.. Juara Harapan 2: Rp.1.500.000, - (Satu juta lima ratus ribu rupiah) dan piagam penghargaan;
6. Juara Harapan 3: Rp.1.000.000, - (Satu juta rupiah) dan piagam penghargaan;
Hadiah dipotong pajak yang ditanggung oleh pemenang.

Informasi lebih lanjut hubungi: Ilus: 91343687, 08121044472

...Baca Selengkapnya

Kathleen Azali yang Menggagas Perpustakaan Pribadi untuk Umum

Awalnya Proyek Senang-Senang, Kini Kelabakan

Pasti banyak yang memiliki perpustakaan pribadi. Namun, membukanya untuk umum, mungkin hanya satu atau dua orang yang berani. Sebab, risikonya, buku koleksi bisa rusak atau bahkan hilang. Di antara yang sedikit itu, ada Kathleen Azali, pengelola Perpustakaan C2O.

C2O adalah singkatan Cipto 20. Di jalan itulah perpustakaan milik Kathleen Azali berada. Tempat tersebut khas. Meski tak ada papan nama, setiap orang yang lewat pasti langsung ngeh. Sebab, dinding depan bangunan itu begitu eye-catching. Ada hiasan mural dengan aneka warna dan bentuk yang ceria.

C2O berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 4 x 15 meter. Ruangan itu dibagi empat. Tak ada sekat yang memisahkan antarruang, kecuali antara ruang tengah dengan dapur.

Meski tanpa sekat, variasi warna dinding sudah menunjukkan perbedaan ruangan. Ada hijau, kuning, dan oranye. Kathleen memang menggunakan warna-warna cerah. Itu menyesuaikan dengan segmen perpustakaannya, yakni anak muda.

Di beberapa sisi, dia menyediakan meja-kursi untuk mereka yang ingin membaca di tempat. Untuk mereka yang suka lesehan, Kathleen menyediakan hamparan alas busa warna-warni plus beberapa bantal kecil. Penataan ruang itu menimbulkan suasana nyaman seolah-olah orang membaca di rumah sendiri. ''Kalau ada yang mau seharian baca buku di sini, boleh aja,'' kata cewek kelahiran 7 Agustus 1981 itu.

Kathleen mengaku, ada sekitar 4 ribu judul buku yang dikoleksinya. Jenisnya bermacam-macam. Mulai teori sosial, politik dan budaya, sastra, sampai referensi untuk desain interior. Ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan Prancis. Semua tertata rapi di rak warna-warni yang ditempel di dinding plus beberapa rak kecil di tengah ruangan.
Menurut Kathleen, sebagian besar bukunya berasal dari koleksi pribadi. Tapi, ada juga yang disumbang kawan-kawannya. ''Waktu awal-awal buka dulu. Makanya, isinya macam-macam. Ada yang nyumbang buku resep juga,'' ujar alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) tersebut.

Dia memang punya banyak judul buku yang terbilang langka, sulit dicari di pasaran. ''Memang sengaja saya bikin begitu. Soalnya, kalau banyak di pasaran, buat apa orang datang ke sini,'' ujarnya. Dia lantas menyebut beberapa judul buku. Di antaranya, The Savage Mind karya Claude Levi Strauss dan The Practice of Everyday Life milik Michael de Certeau.

Bukan hanya itu. Dia juga berusaha melengkapi koleksinya dengan buku-buku asli milik sastrawan lama Indonesia. ''Sebab, sayang kan kalau nggak dibaca sama anak sekarang,'' ujarnya. Sampai saat ini, dirinya sudah dapat sekitar 10 karya Pramoedya Ananta Toer. Dia juga punya karya Marah Rusli. Semua edisi lama, bukan yang cetakan anyar seperti yang dijual di toko-toko buku.

Di perpustakaannya, Kathleen menggunakan metode pengelompokan buku seperti perpustakaan lain. Untuk yang nonfiksi, dia memakai penggolongan standar. Misalnya, kode 00 untuk buku teori umum dan jurnalistik. Kalau 100, itu kode untuk filsafat. ''Gitu-gitu, deh,'' ujar gadis yang juga seorang desainer grafis freelance tersebut.

Untuk menambah koleksinya, Kathleen berburu ke pasar buku bekas. Dia juga kerap hunting ke Jakarta atau Jogjakarta. Dua kota tersebut memang lebih ''ramah'' memberikan akses terhadap para pencinta buku. Tidak jarang pula, dia menitip kepada beberapa temannya yang bepergian ke luar negeri. ''Kalau ada yang mau pesan buku tertentu, bisa. Akan kami carikan, tapi tidak bisa dipastikan bakal ada,'' ungkapnya.

Sebenarnya, ide membuka perpustakaan pribadi untuk umum bukan berasal darinya. Sang kakak, Erwin Azali, yang lebih dulu memulai. Sebab, Erwin memiliki cukup banyak buku desain grafis. ''Dulu bernama Good Idea,'' kata Kathleen. Tapi, karena sibuk, perpustakaan tersebut tidak terurus. Lantaran dianggap sebagai pencinta buku, Kathleen pun ketiban sampur.

''Karena suka, ya saya anggap proyek senang-senang,'' cerita cewek yang serius mengelola C2O sejak setahun lalu itu. Apalagi, setiap buku baru selalu dibaca lebih dulu. Dalam sehari, dia bisa membaca satu buku. Dia juga membuat sedikit review tentang buku tersebut, lalu dipasang di situs khusus perpustakaannya. ''Sekarang agak repot, jadi review-nya udah jarang,'' ucapnya.

Namun, belakangan Kathleen mulai merasa kelabakan karena pemasukan tidak sesuai operasional. Buku terus bertambah, sedangkan minat masyarakat yang ingin membaca tidak terlalu besar. Dia pun terus-menerus mengeluarkan duit dari kantong sendiri. Orang tua juga sudah mendesak agar dia segera mengambil keputusan tentang nasib perpustakaannya tersebut. Namun, Kathleen memilih bertahan.

Untuk menambal biaya operasional, dia memang memberlakukan sistem sewa. Setiap buku bisa dipinjam dengan biaya sepersepuluh dari harga buku. Namun, tidak semua bisa dipinjam. Koleksi khusus yang harganya mahal serta sulit mendapatkannya hanya bisa dibaca di tempat. ''Biasanya sih buku desain. Sebab, kalau saya lihat di perpus kampus, sering digunting-gunting,'' ungkapnya.

Beberapa kawannya menyarankan untuk menambahkan usaha tambahan yang bisa mendatangkan uang. Misalnya, kafe atau kaus. Namun, Kathleen masih enggan. Cewek berkacamata itu merasa hal tersebut akan mengganggu budaya membaca yang sudah dirintisnya. ''Saya nggak tahu. Rasanya nggak rela kalau akhirnya perpustakaannya kalah oleh yang lain,'' katanya lantas tertawa.

Kathleen pun tak ingin memperbanyak koleksi komik. Dia tak mau perpustakaannya sama seperti tempat persewaan komik lain. Kalaupun ada komik, dia memilih yang tak terlalu pasaran. Misalnya, komik Prancis.

Saat ini, yang bisa dia lakukan adalah menambah aktivitas di perpustakaan itu. Yakni, nonton film bareng setiap Sabtu dan Minggu. Yang diputar adalah film-film indie atau film yang tidak masuk ke bioskop umum.

''Lumayan sih. Kalau ada pemutaran film, banyak yang datang. Biasanya kami sambung dengan diskusi ramai-ramai,'' tutur cewek yang dibantu seorang pegawai untuk mengelola perpustakaan tersebut.

Tujuan utama Kathleen membuka Perpustakaan C2O memang tidak untuk memperoleh profit. Dia ingin menularkan minat baca kepada banyak orang. Sekaligus, memberi akses kepada masyarakat untuk membaca buku yang mungkin jarang beredar di Surabaya.

Karena itu, dia berusaha agar tujuan tersebut tidak terganggu. ''Sampai kapan? nggak tahu. Sekuatnya mungkin,'' ucapnya lantas tersenyum. (*/dos)
...Baca Selengkapnya

Thursday, August 6, 2009

Newspaper by rural Indian women wins UNESCO literacy award

Newspaper by rural Indian women wins UNESCO literacy award
The Hindu, August 4, 2009

United Nations (IANS): A newspaper produced entirely by women in rural India is among the four winners of this year's Literacy Prizes awarded by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco).

Khabar Lahariya, the fortnightly newspaper distributed to more than 20,000 readers in Uttar Pradesh, is entirely created and marketed by newly literate "low caste" women who are training as journalists in Chitrakoot and Banda districts.

The King Sejong Literacy Prize was given to this fortnightly paper, started by Nirantar -- a centre for gender and education based in New Delhi and Uttar Pradesh.

In 1989, the Unesco's King Sejong Literacy Prize was instituted by South Korea. It is named after Sejong the Great of the 14th century who created the Korean alphabet Hangul and is remembered for his contribution to education in the areas of science, technology and literature. Each winner is awarded $20,000.

Nirantar has developed a method of training women as journalists, which involves developing their literacy skills as well as honing their reporting abilities. This includes talking to public figures, gathering information and sharpening their editing skills.

The coverage of Khabar Lahriya includes politics, crime, social issues and entertainment for their readership that spans 400 villages in both districts of India's most populous state..

The publication began in May 2002 in Chitrakoot and a second edition was launched in the adjoining Banda district in October 2006, according to the NGO's website. It is written in the local dialect Bundeli for its Bundelkhandi readership.

The other prizes given by Unesco in recognition of innovative programmes designed to teach women, adolescents and other marginalised populations how to read and write, went to programmes in Afghanistan, Burkina Faso and the Philippines.

The Pashai Language Development Project in Afghanistan provides literacy, livelihood, publi
nutrition education to about 1,000 ethnic minority Pashai men and women annually.

An honourable mention also went to a programme in Bhutan for its holistic approach to literacy and its success in reaching remote areas, with an emphasis on literacy as an integral part of the country's "Gross National Happiness" as well as its focus on adults and out-of-school youth, particularly women and girls.

The theme for this year's awards was "Literacy and Empowerment" and the laureates were proclaimed by Unesco Director-General Ko?chiro Matsuura on the recommendation of an international jury.

The award ceremony will be held at Unesco Headquarters in Paris Sep 8 to coincide with International Literacy Day.

Source: http://www.hindu.com/thehindu/holnus/001200908041021.htm

...Baca Selengkapnya

Bapak Toha Nursalam Berpulang

Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Ir. Toha Nursalam, SIP, M.Si., Kepala Perpustakaan IPB tadi sore sekitar pukul 18.00 (tanggal 6 Agustus 2009).

Beliau meninggal di ruang kerjanya di Perpustakaan IPB (menurut yang menyaksikan) sesudah sholat maghrib. Beliau adalah pustakawan lulusan JIP- Fakultas Sastra UI yang menjabat Kepala Perpustakaan IPB yang ke 8 sejak Maret 2008.

Kepada kawan-kawan para pustakawan dan staf perpustakaan yang pernah mengenal beliau, kami atas nama keluarga besar Perpustakaan IPB, memohonkan maaf atas kekhilafan beliau dan memohonkan doa semoga beliau diterima di sisiNya sesuai dengan amal ibadah beliau.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga mereka diberi ketabahan.

 Kami ikut mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

...Baca Selengkapnya

Tuesday, August 4, 2009

Google’s Big Plan for Books

Published: July 28, 2009 
While the Internet has transformed much of the information world, books have been a laggard. Google may change that. It has already scanned millions of out-of-print books, and it has reached an agreement with writers and publishers — which still requires judicial approval — to make them widely available.

Google’s book service raises monopoly and privacy concerns. It also holds great promise for increasing access to knowledge. Much of the information in the world’s books is not widely available. When Google began scanning out-of-print books held by major libraries its goal was to create an enormous database that Internet users could access from local libraries or homes. 

Google fumbled, however, by scanning copyrighted works without the rights holders’ permission. Writers and publishers sued, and the parties have now reached a settlement. A federal court in New York has scheduled a hearing this fall on the settlement, which could be hotly contested.

Google’s effort could create new interest in millions of out-of-print books, which would be made available at no cost at public libraries. That means that a student at a community college or a freelance writer could access the same books as a Harvard professor. 

At a time when publishing’s economic model is threatened, there is also an important financial upside for authors and publishers. Google would charge users for accessing copyrighted books from their own computers and sell online ads, and it would give writers and publishers 63 percent of the revenue. The settlement would create a books rights registry to distribute payments.

Google’s access to most books would not be exclusive since Microsoft or Joe’s Online Library could cut their own deal with authors and publishers and scan books as well. However, it is likely that as a result of the settlement, Google would be the only company with the right to “orphaned” works, books whose rights owners have not been located.

If that were to happen, Google could use monopoly power to price these books exorbitantly. The court reviewing the settlement and the Department of Justice should make sure adequate protections are built in.

The proposed settlement also raises privacy concerns. Google could collect data on what books people read and create a dossier of their political views and other information. Google should generally do a better job of showing how it will respect privacy, and this venture is no exception.

...Baca Selengkapnya

Achmad MA, Terpilih sebagai Pustakawan Berprestasi Dirjen Dikti

Tiap Pagi Gelar Sharing Motivasi Antarkaryawan

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) menyelenggarakan Pemilihan Pustakawan Berprestasi akhir bulan lalu. Juaranya adalah Drs Achmad MA, mantan kepala Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Apa kunci kemenangannya? ASTANTO AL BUDIMAN 

---

UCAPAN selamat terus mengalir kepada Achmad. Dosen, karyawan perpustakaan, juga mahasiswa mendatangi ruang kerjanya, bidang Marketing dan Training Perpustakaan ITS, kemarin. ''Saya baru saja datang dari Jakarta kemarin (Minggu) malam,'' kata Achmad.

Dia baru masuk kantor kemarin dan langsung diserbu koleganya. Kepala Perpustakaan ITS periode 1995-2008 itu kini memang menjadi staf Marketing dan Training Perpustakaan ITS.

Makalah bersampul hijau tergeletak di atas mejanya. Judulnya, Kompetensi Pustakawan untuk Menunjang Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional. Itulah yang dipaparkan Achmad dalam pemilihan Pustakawan Berprestasi yang diadakan Dirjen Dikti di Jakarta, 27-30 Juli lalu.

Achmad menyebutkan dua poin yang harus dimiliki pustakawan. Yakni, profesional dan individu. Pustakawan profesional harus menguasai teknologi. ''Teknologi semakin berkembang. Pustakawan dituntut bisa memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi dari luar,'' katanya.

Dalam praktik sehari-harinya sebagai kepala perpustakaan (waktu itu), dia memberikan pendidikan teknologi kepada tiap-tiap karyawan. ''Semua karyawan harus bisa mengoperasikan komputer hingga punya website sendiri,'' tuturnya.

Untuk individu, pustakawan harus bisa melayani dengan sebaik-baiknya. Karena itu, pustakawan harus tahu yang dicari seseorang di perpustakaan. Bukan berarti tahu semua buku, namun lebih pada memahami resensi-resensi buku dan bisa membantu seseorang mendapatkan informasi dari buku-buku tersebut. ''Pustakawan tidak hanya menata buku dalam rak-rak,'' tegasnya. 

Dalam pemilihan tersebut, lulusan Loughborough University of Technology, Inggris, itu menyisihkan 40 pustakawan se-Indonesia. Pemenang kedua ditempati Endang Fatmawati SS SSos MSi dari Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, dan pemenang ketiga diraih Sri Rumani SH SIP MSi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dia yakin, salah satu yang membawa dirinya sebagai pemenang adalah konsepnya yang dinamakan Pencerahan Pagi. Forum sharing antarkaryawan perpustakaan ITS. ''Program tersebut kami lakukan sejak 2003,'' jelasnya.

Waktunya tidak lama, cukup 20 menit mulai pukul 08.00. Seluruh karyawan Perpustakaan ITS yang berjumlah 43 orang itu berkumpul melingkar. Semua berhak sharing apa saja. ''Tapi, sharing-nya harus positif dan memotivasi,'' ujar Achmad.

Dia mencontohkan salah satu materi sharing yang berjudul Segelas Susu. Syahdan, ada anak penjual koran kehausan setelah menjajakan dagangannya seharian. Lalu, dia meminta segelas air minum kepada seorang ibu. Ibu itu memberi dia segelas susu.

Suatu hari, ibu tersebut sakit parah. Dia butuh biaya besar untuk operasi di rumah sakit. Dia bingung setelah menjalani operasi, bagaimana membayarnya. ''Ibu tidak usah membayar. Ini adalah balas budi dari segelas susu,'' kata kepala rumah sakit yang ternyata anak penjual koran yang dulu diberi segelas susu itu.

Memotivasi, menularkan semangat, kata bapak empat anak tersebut, sangat penting dalam hidup. ''Dengan semangat dan motivasi, tiap individu akan selalu berpikir untuk melakukan yang terbaik,'' ujarnya.

Materi lain yang paling sederhana dalam sharing adalah tentang penyakit stroke lawan senyuman yang dibawakan salah seorang karyawan. Stroke adalah penyakit yang tidak bisa diprediksi datangnya. Tapi, stroke bisa dicegah. Dengan senyum, saraf-saraf akan tertarik, juga berimbas kepada sel-sel otak dan mengurangi stres. Kesimpulannya, stroke bisa dicegah dengan senyum. ''Tersenyum itu ibadah juga kan,'' ungkap alumnus SMAN 2 Kediri tersebut.

Materi motivasi dalam sharing yang dilangsungkan di lobi depan perpustakaan itu tidak harus dari buku, tapi juga kejadian sehari-hari. Mulai lingkup keluarga, kantor, hingga segala sesuatu yang ditemui.

Dengan motivasi-motivasi semacam itu, setiap hari tiap-tiap karyawan mendapatkan pengalaman dari orang lain. Setidaknya, mereka diingatkan tentang sisi-sisi optimisme, hubungan dengan orang lain, sampai hubungan kepada Tuhan.

Achmad membawa contoh-contoh sharing itu dalam presentasi. Pria kelahiran 1 Januari 1951 tersebut mengaku kemenangannya itu tidak lepas dari efek positif yang didapat dalam Pencerahan Pagi. ''Saat itu, saya merasa semua anggota diskusi adalah rekan-rekan saya. Hampir seluruh juri merespons positif kepada saya,'' paparnya.

Dalam pemilihan tersebut, Achmad tidak hanya mempresentasikan makalah. Tapi, dia juga menjalani sesi penilaian diskusi kelompok membahas masalah-masalah yang dihadapi pustakawan dan solusinya, termasuk memotivasi karyawan.

Atas kemenangan tersebut, Achmad membawa pulang sebuah trofi Pustakawan Berprestasi, uang Rp 15 juta, laptop, serta kamera digital. Rencananya, 17 Agustus mendatang, dia kembali ke Jakarta untuk mengikuti upacara di istana. ''Ini masih rencana. Undangannya belum datang,'' katanya lantas tersenyum. ''Yang penting, do the best,'' imbuhnya. 

Pustakawan memang impian Achmad. ''Pustakawan adalah tuntutan hati,'' ujarnya. Kepiawaiannya dalam bahasa Inggris dimanfaatkan untuk memperkaya pengetahuan tentang dunia luar. ''Tidak ada hobi yang bisa mengalahkan kesukaan saya membaca,'' tegas sarjana sastra Inggris dari Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut. 

Buku tentang people skill paling digemari. ''Buku saya 85 persen tentang people skill dan 15 persen teknik,'' jelasnya. Karena itu, dia sangat menikmati ketika merintis karir sebagai pustakawan di ITS pada 1991. Empat tahun kemudian, dia diangkat menjadi kepala perpustakaan. (*/cfu)
--

sumber: Jawa Pos, Selasa 4 Agustus 2009

---

Another blog raising by attention:

housing and real estate
trend and fashion
enjoyable traveling
coffee and espressos
automotive and car tips
Trips, vacation, travel

...Baca Selengkapnya

Library Journal is for Sale!

Publisher pledges continued excellence and growth, as RBI divests titles-- Library Journal, 8/3/2009
RBI divesting most U.S. trade magazines
Banker appointed for sale
Publisher pledges continued excellence

Reed Business Information (RBI) is putting Library Journal and its affiliated publications, School Library Journal and Publishers Weekly, up for sale. The transaction is part of RBI’s strategy to divest most of its trade magazines in the United States. A few, including Variety, will not be sold.

Last year, Reed Elsevier, parent company of RBI, tried to sell all of RBI but dropped the plan when it couldn’t get the price it wanted in a depressed market for media properties. In a related announcement, Tad Smith, CEO of RBI U.S., has resigned. John Poulin has been named acting CEO; he will head the divestiture.

Today paidContent suggested that the process is moving along, given that RBI has appointed The Jordan, Edmiston Group as the banker. While Reed would prefer to sell the package of some 50 titles to one buyer again, paidContent predicted that, given the market, the deals likely will be piecemeal.

Publisher’s comment
"The Publishing Group (Publishers Weekly, Library Journal, and School Library Journal) accepts the decision of our corporate parent to divest the U.S. RBI business,” commented Ron Shank, VP and Group Publisher. “Since early 2008 this has been the stated intent, paused only by the economy and credit markets. We will continue to increase our value to advertisers and the entire user community.

“We’re extraordinarily proud of our online growth, platform diversity and achievements, our vibrant in-person events and programs, and our print titles, which continue to sparkle with lively features,” he added. “We are reminded often, by readers and clients, how much value these titles add to their professional lives by delivering great content and covering vital client developments. We are focused on increasing the depth of our relationships with customers and are looking for new opportunities to engage users.

“These brands have enormous global equity built over a century-plus of service. The people who work on PW, LJ, and SLJ and those who provide support are extremely knowledgeable, passionate, and devoted. Any buyer who places these brands in a nurturing environment will be rewarded with success. Our customers should expect continued excellence in service and results from us and that’s exactly what they’ll get," concluded Shank.

Source: http://www.libraryjournal.com/article/CA6674558.html

...Baca Selengkapnya

Tuesday, October 14, 2008

NASKAH KUNO DIGITALISASI

NASKAH KUNO DIGITALISASI
Ditargetkan 9.000 Naskah Bisa Dikerjakan

KOMPAS, Jumat, 10-10-2008. Halaman: 12


Jakarta, Kompas
Sebanyak 9.000 naskah kuno koleksi Perpustakaan Nasional yang
bernilai sejarah tinggi akan diubah ke dalam bentuk digital sehingga
naskah asli bisa terhindar dari kerusakan. Namun, dari koleksi
sebanyak itu, baru 315 judul naskah yang telah ditransformasi dalam
bentuk digital.

Tidak semua naskah kuno atau manuskrip dapat ditransformasi ke
dalam bentuk digital karena ada yang berbentuk benda-benda tertentu,
misalnya aksara yang terukir di benda.

"Koleksi Perpustakaan Nasional sekitar 10.000 naskah kuno,
sedangkan yang dapat ditransformasi digital sekitar 9.000 naskah,
yakni naskah berbentuk lembaran," ujar Kepala Perpustakaan Nasional
Dady Rachmananta, Kamis (9/10) di Jakarta.

Transformasi digital tersebut sangat penting mengingat usia naskah
sebagian besar sangat tua dan fisiknya ada yang sudah rusak. Perubahan
ke bentuk digital diutamakan untuk naskah yang fisiknya sudah parah
kondisinya. Koleksi naskah Perpustakaan Nasional ada yang dari tahun
1200-an atau sudah berumur lebih dari 800 tahun.

"Kalau naskah masih sering dibuka-buka dan tersentuh akan cepat
hancur. Sekarang ini tidak sembarangan orang dapat memegang secara
langsung karena fisiknya harus dilindungi. Dengan adanya bentuk
digital, siapa pun dapat mengakses, sedangkan naskah tetap lestari,"
ujarnya. Pada tahun 2008, anggaran transformasi digital sebesar Rp 650
juta.

Naskah yang telah dialihkan ke bentuk digital sangat beragam dan
berasal dari berbagai daerah. Naskah yang terbilang sangat penting,
misalnya, Nagarakretagama, Ila Galigo, dan Babad Tanah Jawi.

Terbesar
Koleksi Perpustakaan Nasional termasuk yang memiliki koleksi
terbesar di Asia Tenggara.

Menurut Kepala Bidang Digital Perpustakaan Nasional, Joko
Prasetyo, selain melakukan digitalisasi naskah kuno, Perpustakaan
Nasional juga mendigitalkan buku langka sebanyak 2.500 judul, majalah
langka 1.700 judul,3.000 foto koleksi IPPHOS, peta kuno sebanyak 1.300
lembar, serta beragam koleksi lainnya.

Untuk buku, yang telah didigitalisasikan masih terbatas, yakni
yang sudah lewat hak ciptanya selama 50 tahun.

Semua hasil digitalisasi ini, lanjut Dady, nantinya akan
ditampilkan sehingga bisa diakses oleh publik. Untuk abstraknya
seperti halaman judul, ilustrasi, dan kulit muka dapat diakses melalui
internet. Namun, untuk membaca teks penuh harus datang dan mengakses
lewat fasilitas multimedia di Perpustakaan Nasional.

Harapannya, dengan transformasi ke bentuk digital, masyarakat
lebih mudah memanfaatkannya. Selain itu, jika masyarakat mengenal
koleksi-koleksi tersebut diharapkan timbul kepedulian dan rasa
memiliki.(INE)


Foto:
KOMPAS/LASTI KURNIA
Staf Perpustakaan Nasional merapikan catatan katalog koleksi data yang
masih dilakukan dengan sistem katalogisasi manual di Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia, Salemba, Jakarta, Senin (6/10). Saat ini
Perpustakaan Nasional sedang menyiapkan sistem digitalisasi pada
materi maupun sistem database koleksi sehingga akan lebih mudah
diakses dan dimanfaatkan masyarakat.

Sumber : P U S A T I N F O R M A S I K O M P A S
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta, 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200
Fax. 5347743
...Baca Selengkapnya

Saturday, August 9, 2008

Mengkolaborasikan Peran Guru-Perpustakaan

Oleh: Zainal Fanani

Pendidikan yang bermutu terkait erat dengan kualitas guru. Pasalnya, pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju dan berbudaya. Dengan demikian, guru harus mampu menyeimbangkan ketiga anugerah Allah SWT kepada manusia yakni akal, tangan, dan hati. Akal sebagai menelurkan kreatifitas dan ide. Dari tangan guru, lahirlah berbagai aktifitas anak didik. Hati berfungsi sebagai pengendali ide dan aktifitas.

Selain keseimbangan tiga hal tadi, guru seyogyanya memilki beberapa kompetensi lain. Pertama, kompetensi pedagogik. Guru harus memiliki jiwa pendidik yang mendarah daging. Artinya, pendidikan tidak sekadar dihafal, tetapi menjadi bagian perilaku, diantaranya kemampuan mengelola pembelajaran yang dapat mengaktualisasikan potensi dan pembelajaran dialogis.

Kedua, kompetensi kepribadian. Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Oleh karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Diantaranya kepribadian pendidik yang dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan, berakhlak mulia, dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

Ketiga, kompetensi sosial. Kompetensi ini berhubungan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan sebagai makhluk sosial meliputi kemampuan berkomunikasi efektif dengan berbagai kalangan. Keempat, kompetensi profesional. Merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam untuk membimbing siswa memperoleh kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Diantaranya kemampuan menguasai landasan kependidikan, psikologi pendidikan, metodologi dan strategi pembelajaran dalam berbagai media dan sumber belajar, serta berpikir ilmiah.

Dengan keempat kemampuan penunjang tadi, guru yang berkualitas tidak sekedar impian saja. Guru dengan kompetensi tersebut akan melahirkan anak bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan berakhlak mulia. Guru berkualitas memberikan teladan bagi terbentuknya kualitas sumber daya manusia yang kuat.

Semboyan ala Ki Hadjar Dewantara yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan, seorang guru harus memberi teladan). Ing Madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide). Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Semboyan itu harus selalu tertanam dalam diri para guru era millenium ini. Selain itu mempertahankan asih, asuh, dan asah dengan mengembangkan belajar untuk tahu, belajar untuk berbuat, dan belajar untuk hidup bersama.

Optimalisasi Perpustakaan Sekolah

Selain guru, perpustakaan sekolah sebagai bagian integral proses pendidikan berfungsi untuk mengembangkan dan mempertahankan kebiasaan serta keceriaan membaca dan belajar. Membaca akan memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan daya pikir, jika belum berperan seperti itu maka perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Ibarat tubuh, para siswa (eritrosit) dan guru (leukosit) serta orang tua siswa (trombosit) mengalir datang dan pergi mengisi jantung (perpustakaan). Darah tersebut meski memiliki fungsi yang berbeda akan tetapi memiliki satu tujuan dalam hal ini membaca.

Kebiasaan membaca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (life long learning). Kemahiran siswa untuk mencari informasi di perpustakaan akan menolongnya untuk mampu belajar secara mandiri.

Guru seyogyanya menjadi teladan dalam pemanfaatan koleksi perpustakaan sekolah serta mengarahkan siswa selalu menggunakan perpustakaan sekolah sebagai sumber informasi. Misalnya penyelesian soal dengan studi literatur maka siswa akan aktif belajar untuk mencari informasi dari berbagai sumber termasuk di perpustakaan.

Perpustakaan sepantasnya menjadi perhatian karena selama ini, sekolah lebih tergiur membangun lapangan, atau membeli pendingin ruangan, tetapi perpustakaan sering luput. Bahkan jumlah maupun jenis koleksi buku yang biasanya sangat kurang sehingga perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buku"

Pihak pustakawan, pengelola perpustakaan sekolah harus berperan aktif untuk mempromosikan koleksinya kepada guru-guru dan siswa-siswi. Misalnya, membuat papan informasi perpustakaan di mana semua guru dan siswa setiap hari dapat melihat informasi perpustakaan yang sering di perbarui.

Disamping juga untuk melatih siswa menjadi pustakawan cilik yang mana siswa juga dapat dijadikan pengelola perpustakaan. Pustakawan cilik ini diberikan pelatihan singkat sehingga dapat membantu pelayanan di perpustakaan. Maka harus didorong bersinergi dan terencana antara pustakawan, siswa, sekolah, komite sekolah, wali murid, dan guru dalam membangun pendidikan. Guru, selamat berjuang.[]

Zainal Fanani
Koordinator Insan Baca Surabaya
(Jaringan Taman Baca dan Perpustakaan Independet)

...Baca Selengkapnya